Brodi's Blog

Sunday, November 30, 2025

Umroh Mandiri vs Travel: Pelajaran dari Perjalanan Spiritual Kami

Tidak semua perjalanan dimulai dengan kesiapan. Ada perjalanan yang justru dimulai dengan keraguan, rasa takut, dan pertanyaan dalam diri: sanggupkah kita? Begitulah perasaan kami ketika memutuskan berangkat ke Tanah Suci tanpa ikut rombongan travel. Kami ingin mencoba hal baru, ingin merasakan bagaimana rasanya benar-benar mengatur semuanya sendiri. Namun perjalanan itu akhirnya menjadi salah satu pengalaman terbesar dalam hidup yang tidak hanya mengubah cara kami beribadah, tetapi juga cara kami melihat dunia.

Sejak sebelum tiba di Makkah, kami sudah diuji dengan rasa panik dan kebingungan. Bahasa berbeda, budaya berbeda, dan ritme kota yang jauh lebih cepat dari yang kami bayangkan. Di bandara, kami menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memastikan transportasi menuju hotel aman dan sesuai rencana. Pada momen itu aku menyadari, perjalanan ini bukan sekadar tentang ibadah, melainkan juga tentang kemampuan untuk tetap tenang di tengah ketidakpastian.

Ketika sampai di Masjidil Haram pertama kali, rasa haru langsung menghapus semua lelah. Dunia seperti berhenti. Tidak ada suara selain panggilan hati yang sudah lama menunggu untuk pulang. Tawaf pertama kami terasa sangat emosional, bukan hanya karena kesakralannya, tetapi karena kami melakukannya tanpa mengikuti rombongan, tanpa instruksi pembimbing. Hanya catatan kecil di ponsel yang menjadi penunjuk arah ibadah kami. Dan anehnya, justru di situlah letak kedalaman spiritualnya. Setiap ritual terasa lebih berarti ketika kita memahami apa yang sedang dilakukan, bukan hanya mengikuti aba-aba.

Namun perjalanan ini bukan tanpa air mata. Sai menjadi titik paling melelahkan untuk istriku. Di putaran kelima ia berhenti, napasnya terengah. Aku memintanya menyudahi dan melanjutkan esok hari, tapi ia menggeleng. Ia berkata, pelan namun tegas, "Kalau kita bisa pulang dari tempat ini karena Allah, tentu kita juga bisa menyelesaikan ibadah ini karena Allah." Kata-kata itu tertanam dalam pikiranku sampai hari ini.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan banyak pelajaran. Kami tersesat beberapa kali ketika pulang ke hotel, bahkan terkadang harus bertanya ke beberapa penjaga toko atau jamaah lain untuk memastikan jalan yang benar. Dari situlah aku merasakan bahwa ibadah bukan hanya perkara ritual, tetapi juga tentang kerendahan hati untuk belajar dan bertanya.

Perjalanan ke Madinah menghadirkan suasana berbeda. Kota itu lebih lembut, tenang, dan penuh damai. Mengunjungi makam Rasulullah ﷺ menjadi bagian paling menyentuh dari perjalanan. Tidak ada pemandu, tetapi entah bagaimana kami tahu kemana harus menuju. Seolah-olah kerinduan menggerakkan kaki kami ke arah yang benar. Aku melihat orang-orang dari seluruh dunia menangis pelan, membaca doa, mengirim salam. Pada saat itulah aku memahami bahwa Tanah Suci memiliki cara sendiri untuk menyentuh hati setiap orang.

Sekembalinya ke tanah air, banyak orang bertanya bagaimana rasanya pergi tanpa travel. Apakah sulit? Apakah menakutkan? Apakah disarankan? Jawabanku selalu sama: perjalanan umroh mandiri memang tidak mudah, tetapi pengalaman spiritual yang diberikannya sangat dalam. Kita belajar percaya sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada fasilitas atau manusia. Namun aku juga jujur menyampaikan bahwa perjalanan semacam ini tidak cocok untuk semua orang. Ada yang merasa lebih tenang ketika berangkat dengan rombongan, ada yang ingin kenyamanan, ada yang membutuhkan pendampingan dari awal hingga akhir. Dan itu tidak salah.

Dari pengalaman kami, aku mulai sadar bahwa setiap orang membutuhkan gaya perjalanan yang berbeda. Ada orang seperti kami yang memilih jalur mandiri untuk menemukan kedalaman spiritual, tapi banyak juga yang akan merasakan manfaat lebih besar jika ditemani oleh pembimbing berpengalaman, akomodasi sudah dipastikan, dan semua proses administratif diurus dari awal. Tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan cara tersulit. Ada kalanya kita memilih jalan yang lebih tenang agar bisa fokus beribadah tanpa terganggu urusan teknis.

Karena itu, ketika beberapa saudara menanyakan apakah mereka sebaiknya ikut travel atau mencoba mandiri seperti kami, aku selalu menyarankan untuk menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Jika ingin perjalanan yang lebih teratur, ada jadwal ibadah jelas, ada pembimbing ibadah, dan ingin memastikan kenyamanan serta keamanan sejak keberangkatan sampai kepulangan, maka ikut travel adalah pilihan terbaik. Tidak semua orang siap menghadapi tantangan bahasa, teknis hotel, transportasi, hingga kesalahan menentukan rute seperti yang kami alami.

Dan meskipun cerita kami penuh dengan perubahan hidup melalui pengalaman mandiri, aku tetap percaya bahwa tujuan utamanya bukanlah cara berangkat, tetapi bagaimana hati kita sampai kepada Allah. Tidak peduli apakah melalui travel atau mandiri, yang terpenting adalah pulang dengan keyakinan yang lebih kuat, hati yang lebih bersyukur, dan amalan yang semakin baik setelahnya.

Yang sulit dari perjalanan ini bukan biaya atau fisiknya, tetapi menjaga fokus ibadah dari awal hingga akhir. Untuk banyak orang, travel justru membantu menjaga fokus itu. Maka jika ada yang membaca kisah ini, terinspirasi, lalu ingin ke Tanah Suci namun masih ragu apakah mampu mengurus semuanya sendiri, percayalah: bukan tidak boleh memilih jalan yang lebih mudah. Tidak mengurangi nilai ibadah jika kita ingin perjalanan yang nyaman, terarah, dan tenang.

Bagiku, setiap perjalanan suci memiliki jalannya masing-masing. Ada yang memilih jalur penuh tantangan agar bisa belajar banyak, ada yang memilih jalur tenang agar bisa meresapi ibadah dengan maksimal. Yang penting, jangan menunda panggilan Allah hanya karena khawatir dengan cara keberangkatannya.

Comments