Brodi's Blog

Tuesday, October 28, 2025

Dari Tabungan Receh hingga Menatap Kabah: Kisah Nyata Perjalanan Umroh Plus Dubai

Aku masih ingat betul, sore itu aku duduk di teras rumah sambil menggulir layar ponsel tanpa tujuan jelas. Sampai tiba-tiba, sebuah iklan dari pusat umroh muncul di feed-ku—tentang paket Umroh Plus Dubai. Kata “plus Dubai” itu langsung menarik perhatianku. Aku bukan hanya ingin menunaikan ibadah umroh, tapi juga ingin merasakan perjalanan yang berkesan—melihat sisi dunia lain, belajar banyak hal, dan menemukan makna spiritual di baliknya.

Awalnya, aku pikir perjalanan seperti itu hanya untuk orang berduit. Tapi setelah kubuka situsnya dan membaca detail biaya serta programnya, ternyata tidak sesulit yang kubayangkan. Aku bahkan menemukan banyak kisah jamaah yang berangkat setelah disiplin menabung selama satu tahun. Saat itu juga, aku bilang pada diriku sendiri: “Aku juga bisa.”

Malam itu aku berbicara dengan istriku. Kami sama-sama semangat tapi juga realistis. Gaji kami tidak besar, tapi kami percaya bahwa kalau niatnya baik, pasti ada jalan. Kami membuat perencanaan sederhana—menyisihkan sebagian dari penghasilan setiap bulan, tanpa menunda-nunda. Kami menamainya tabungan umroh keluarga.

Bulan demi bulan berlalu. Di awal terasa berat, karena selalu saja ada pengeluaran tak terduga. Tapi kami belajar beradaptasi. Tidak lagi jajan berlebihan, tidak lagi beli hal-hal yang hanya karena ingin. Kami belajar hidup sederhana, tapi dengan hati yang lebih tenang. Setiap kali aku merasa goyah, aku buka lagi situs pusat umroh, membaca testimoni para jamaah yang sudah berangkat, dan semangat itu langsung kembali.

Enam bulan pertama hasilnya belum banyak, tapi bukan itu yang penting. Yang paling berharga adalah kebiasaan baru yang tumbuh: disiplin, sabar, dan penuh harapan. Perlahan, saldo tabungan kami bertambah. Hingga suatu malam, ketika aku menghitung ulang, aku tersenyum lebar—kami hampir mencapai target biaya umroh plus dubai.

Beberapa bulan kemudian, doa kami benar-benar dijawab. Uang sudah cukup, dan kami langsung menghubungi tim dari pusat umroh. Mereka menjelaskan semua detail dengan sabar dan profesional—mulai dari jadwal, fasilitas, hingga bimbingan ibadah. Rasanya seperti mimpi yang akhirnya jadi nyata.

Hari keberangkatan tiba. Dari bandara, hati ini campur aduk: haru, gugup, bahagia. Begitu mendarat di Dubai, semua penat hilang seketika. Kota itu sungguh luar biasa—modern, bersih, dan megah. Kami sempat naik ke puncak Burj Khalifa, melihat matahari terbenam dari ketinggian, lalu berjalan santai di sekitar Marina yang berkilau. Tapi yang paling berkesan justru suasana padang pasir—sunyi, luas, dan membuatku banyak merenung. Di tengah hamparan pasir itu, aku sadar: sekaya apa pun manusia, semuanya kecil di hadapan Allah سبحانه وتعالى.

Tiga hari di Dubai terasa cepat, dan perjalanan berlanjut ke Makkah. Saat pertama kali menatap Ka’bah, seluruh kenangan perjuangan menabung selama setahun seakan berputar di kepala. Aku menggenggam tangan istriku erat-erat, dan kami berdua menangis. Tidak ada kata lain selain syukur. Semua kerja keras, semua pengorbanan kecil—terbayar lunas hanya dengan satu pandangan ke arah Baitullah.

Ibadah umroh kami berjalan lancar. Setiap langkah thawaf, setiap doa di Multazam, setiap shalat di Masjidil Haram terasa begitu hidup. Aku merasakan ketenangan yang tak pernah kudapat sebelumnya. Lalu di Madinah, suasananya jauh lebih lembut. Duduk di Raudhah membuatku merenung—ternyata perjalanan ini bukan hanya soal finansial, tapi soal bagaimana kita belajar percaya bahwa Allah سبحانه وتعالى selalu menepati janji-Nya bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Sepulang ke Indonesia, banyak teman yang menanyakan rahasiaku. “Gimana bisa sih nabung buat umroh di tengah kebutuhan rumah tangga?” Aku cuma jawab, “Karena aku mulai duluan, meski belum siap.” Niat dan konsistensi kecil ternyata bisa membuka jalan besar.

Sekarang aku sering bilang pada siapa pun yang masih ragu, “Kalau kamu benar-benar ingin ke Tanah Suci, jangan tunggu nanti.” Mulailah dari sekarang. Buka situs pusat umroh, cari paket yang sesuai, dan buat rencana sederhana. Tidak harus langsung besar—yang penting mulai. Karena setiap rupiah yang kamu sisihkan, sebenarnya bukan untuk tiket pesawat atau hotel, tapi untuk membuka pintu rahmat dari Allah سبحانه وتعالى.

Dan saat nanti kamu berdiri di depan Ka’bah, menatapnya dengan air mata syukur, kamu akan paham: setiap perjuangan kecil itu sepadan. Umroh plus dubai bukan sekadar perjalanan religi, tapi perjalanan menuju kedewasaan hati—perpaduan antara dunia yang megah dan akhirat yang penuh makna. Sebuah perjalanan yang dimulai dari niat kecil, tapi berakhir dengan perubahan besar dalam hidup.

Comments